BCA Sekuritas
langen
Daily News

BI : SINERGI MERAH PUTIH JADI KUNCI OPTIMALISASI LIKUIDITAS UNTUK INTERMEDIASI

Category

Business Economics

Published On

03 September 2026

24553019

IQPlus, (3/9) - Bank Indonesia mendorong penguatan sinergi lintas lembaga agar likuiditas perbankan semakin efektif mengalir menjadi pembiayaan bagi UMKM dan sektor prioritas untuk memperkuat ekspansi usaha, meningkatkan produktivitas, dan membuka lapangan kerja. Langkah tersebut ditempuh melalui kebijakan yang lebih tertarget, seperti penyempurnaan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).

Dalam siaran pers BI (3/9) disebutkan Kebijakan ini disesuaikan dengan kondisi masing-masing bank dan diarahkan untuk memperkuat penyaluran kredit ke sektor-sektor yang memberikan dampak lebih besar bagi perekonomian nasional. Hal tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, saat bertindak sebagai narasumber diskusi Sarasehan 100 Ekonom Indonesia "Berlayar di Tengah Gelombang Global, Menjaga Daya Tahan Ekonomi Nasional" di Jakarta (3/9).

Sesi diskusi yang mengangkat topik "Ujian Intermediasi Perbankan dan Likuiditas" tersebut diikuti pula oleh narasumber Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu.

Bank Indonesia menaikkan insentif KLM dari 5,5 persen menjadi 6,0 persen mulai September 2026. Hingga awal Agustus 2026, total insentif yang telah diperoleh perbankan mencapai Rp446,5 triliun atau 5,02 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Menurut Destry, penguatan intermediasi juga perlu didukung oleh sisi permintaan, mengingat masih besarnya undisbursed loan yang dapat menjadi ruang bagi pertumbuhan kredit ke depan.

"Karena itu, sinergi dengan Pemerintah dan dunia usaha menjadi penting untuk memastikan likuiditas yang tersedia benar-benar bermuara pada ekspansi usaha, peningkatan produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja," ujar Destry.

Frederica mengatakan bahwa likuiditas perbankan yang memadai perlu terus ditransmisikan secara efektif menjadi pembiayaan bagi sektor riil agar memberikan daya ungkit yang lebih kuat terhadap pertumbuhan ekonomi. Ia juga menyampaikan bahwa saat ini pertumbuhan kredit terjadi baik pada Himbara dan bank swasta.

"Ke depan, tantangannya bukan hanya menjaga pertumbuhan kredit secara agregat, tetapi memastikan likuiditas semakin mengalir ke sektor-sektor produktif dan UMKM sehingga lebih inklusif dan memberikan multiplier effect yang lebih besar bagi perekonomian. Karena itu, penguatan pembiayaan UMKM perlu terus dilakukan secara bersama-sama melalui sinergi antara KSSK, perbankan, dan pemangku kepentingan lainnya," ujar Friderica.

Senada dengan Friderica, Anggito menekankan bahwa kondisi perbankan nasional tetap sehat, didukung permodalan yang kuat, risiko kredit yang rendah, dan pertumbuhan DPK. Untuk menjaga kondisi tersebut, disiplin pasar perlu diperkuat agar persaingan dalam penghimpunan dana tetap sehat dan tidak mendorong kenaikan biaya dana perbankan. Dalam hal ini, LPS menjaga disiplin pasar melalui Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) yang bergerak mengikuti suku bunga pasar, sehingga biaya dana tetap terjaga dan penyaluran kredit dapat terus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Di akhir diskusi, Destry menegaskan bahwa Sinergi Merah Putih bukan sekadar bekerja sama, melainkan menyatukan kekuatan dan menyelaraskan langkah antarlembaga untuk menghasilkan dampak yang lebih nyata bagi pertumbuhan ekonomi, penguatan UMKM, dan penciptaan lapangan kerja.

Bank Indonesia akan terus menjaga kecukupan likuiditas dan memperkuat transmisi suku bunga kebijakan agar intermediasi perbankan semakin efektif dalam mendukung pembiayaan sektor riil, melalui bauran kebijakan yang mendorong penguatan kredit, peningkatan produktivitas dunia usaha, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (end)