BCA MONITOR DEBITUR TERDAMPAK DI TENGAH DINAMIKA GLOBAL
Share via
Published On
24 April 2026
Related Stocks
Latest update: 01-07-2026, 01:51:pm
11325541
IQPlus, (24/4) - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memperkuat monitoring debitur pada sektor terdampak guna memastikan kualitas kredit tetap terjaga di tengah konflik Timur Tengah dan ketidakpastian global.
Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih menyebutkan, salah satu sektor yang mulai terdampak adalah industri plastik seiring kenaikan harga bahan baku yang dipicu lonjakan harga minyak global.
"Tentu saja kita terus melakukan koordinasi dengan para nasabah kita untuk melihat bagaimana kondisi daripada para nasabah saat ini. Dan tentu saja kita juga menanyakan bagaimana mitigasi yang akan dilakukan oleh para nasabah," kata John menjawab pertanyaan media dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.
John menambahkan bahwa sejauh ini risiko masih terjaga dengan baik dan para nasabah tetap menjalankan usaha secara normal sehingga pihaknya akan terus memonitor perkembangan kondisi tersebut.
Terkait dampaknya kepada kinerja kredit korporasi ke depan, ia menilai lonjakan harga komoditas terutama energi sebenarnya telah diantisipasi oleh para debitur sejak awal.
Menurutnya, kondisi global yang dipenuhi ketidakpastian membuat para nasabah telah bersiap menghadapi berbagai kemungkinan sehingga dampaknya tidak terjadi secara tiba-tiba.
Karena itu, ujar John, BCA terus memperkuat koordinasi dengan nasabah guna menjaga kesiapan dalam mengantisipasi berbagai risiko yang mungkin muncul.
Terkait pelemahan nilai tukar rupiah, John menyebutkan bahwa eksposur kredit valas masih relatif kecil yakni sekitar 4,9 persen dari total portofolio BCA sehingga kondisinya tetap terjaga.
Dengan demikian, pelemahan rupiah dinilai tidak memberikan dampak signifikan. Bahkan, menurut John, dapat menguntungkan bagi nasabah yang berorientasi ekspor meski pelaku usaha tetap mengharapkan stabilitas nilai tukar.
Sementara itu, Direktur BCA Subur Tan memastikan bahwa perseroan juga telah melakukan stress test sesuai anjuran regulator dan hasilnya dinilai masih cukup positif.
Subur menyebutkan bahwa dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) berada pada kisaran yang jauh di atas ketentuan minimal, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) tetap terjaga yakni berada pada level 1,8 persen per Maret 2026.
Terkait potensi kenaikan NPL ke depan, ia memandang masih terlalu dini untuk disimpulkan namun perseroan tetap percaya diri dapat menjaga kualitas kredit dengan baik. (end)
Related Research
News Related
