ASOSIASI MINTA KEMENTAN LINDUNGI KEBERLANGSUNGAN INDUSTRI TEMBAKAU
Share via
Category
Business Economics
Published On
01 July 2026
18142692
IQPlus, (1/7) - Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) meminta Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk melindungi peraturan yang berpihak pada keberlangsungan industri tembakau.
"Tembakau adalah satu-satunya tanaman andalan petani saat musim kemarau. Kontribusinya sangat besar bagi penerimaan negara, menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat di daerah," kata Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional (Sekjen DPN) APTI, Mudi, di Jakarta, Rabu.
Menurut Mudi, tembakau merupakan komoditas andalan 2,5 juta petani yang tersebar di 14 provinsi.
Namun saat ini, terdapat beberapa aturan di tingkat nasional yang mengkhawatirkan pihak petani, contohnya penyeragaman kemasan rokok, pembatasan kadar nikotin dan tar, hingga pelarangan bahan tambahan.
Sebagai komoditas yang 98 persen didominasi perkebunan rakyat, Mudi menekankan urgensi perlindungan tembakau dari regulasi-regulasi yang bisa menghambat hilirisasi komoditas perkebunan.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Dirjenbun Kementan) Ali Jamil menegaskan bahwa sektor perkebunan tidak boleh lagi dipandang sebelah mata.
Ali menyebut jika berkaca pada sejarah, masyarakat yang memiliki tanaman perkebunan justru mampu bertahan ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi.
"Jangan menganggap perkebunan sebagai sektor yang rendah. Saat krisis 1998, masyarakat yang memiliki tanaman perkebunan masih bisa bertahan. Artinya, sektor ini memiliki daya tahan ekonomi yang sangat kuat," ujar Ali.
Ali Jamil pun memaparkan berdasarkan data BPS, subsektor perkebunan dijalankan oleh 10,87 juta rumah tangga usaha pertanian yang menjadi potret makro perkebunan.
Untuk itu, ia menilai pentingnya memberdayakan melindungi dan membimbing petani.
"Butuh kerja keras karena memang lebih dari 90 persen pelaku usaha perkebunan adalah petani rakyat sehingga perlu penguatan. Komoditas perkebunan kita potensinya sangat besar, luasannya, hasil produktivitasnya bagus. Permasalahan krusialnya adalah hasilnya masih didominasi raw material, rantai pasok belum terintegrasi dengan baik," ungkap Ali. (end/ant)
Related Research
News Related
